Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi B DPRD Provinsi DKI Jakarta, Dwi Rio Sambodo, mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta perlu melibatkan masyarakat dalam merancang TOD agar sesuai dengan identitas dan kebutuhan warganya.
Apalagi, menjadikan TOD sebgaia kawasan perekonomian berbasis komunitas dan heritage. Satu contoh di antaranya yakni di Moskwa atau dikenal sebagai Ibukota Rusia. Moskwa telah berhasil menjadikan kawasan TOD mengusung tema sejarah dan budaya di beberapa fasilitas transportasi publik.
Baca: Ganjar Tegaskan Seluruh Kader PDI Perjuangan Taat Pada Aturan
Menurut politisi PDI Perjuangan itu, pelibatan masyarakat dalam membangun kawasan TOD bisa disesuaikan dengan identitas dan kebutuhan warga. “Kawasan TOD juga harus melestarikan nilai sejarah dan budaya lokal. Menggabungkan bangunan bersejarah dengan fasilitas modern,” kata Rio, Senin (24/2/2025).
Karena itu, mendorong agar Pemprov DKI mengintegrasikan kawasan TOD Blok M dan Bundaran HI dengan moda transportasi publik. Seperti MRT, LRT, TransJakarta, dan commuter menggunakan sistem tiket terpadu.
Tujuannya agar sistem tersebut memudahkan masyarakat saat berpindah dari satu moda transportasi ke moda transportasi lainnya. Dengan demikian, lebih efektif dan efisien.
Contoh lainnya yakni Tokyo. Kota tersebut sukses mengintegrasikan berbagai moda transportasi, seperti kereta bawah tanah, bus, dan kereta commuter dengan sistem tiket terpadu.
“Seperti Suica atau Pasmo yang memudahkan perpindahan antarmoda dan mendorong penggunaan transportasi umum,” ungkap Rio.
Kawasan TOD, lanjut Rio, dapat dijadikan wadah untuk mendukung interaksi sosial, gaya hidup sehat, ruang terbuka hijau, dan fasilitas ramah pejalan kaki. Untuk itu diperlukan kesiapan yang matang agar perencanaannya dapat diwujudkan.
Baca: Ganjar Pranowo Harap Masalah Gas Melon Cepat Tuntas
“Desain ramah lingkungan, seperti pengelolaan air hujan dan energi terbarukan, juga penting untuk keberlanjutan,” pinta Rio.
Selain itu, di setiap penghubung TOD juga dapat dijadikan sarana hiburan dan edukasi dengan dipamerkannya artefak atau foto-foto sejarah transportasi. Penyediaan fasilitas tersebut dapat menambah wawasan bagi pengguna transportasi publik di DKI Jakarta.
“Menggabungkan elemen modern dan sejarah, serta memamerkan artefak atau foto-foto sejarah transportasi sebagai destinasi edukasi dan wisata,” tutup Rio.