Jakarta, Gesuri.id - Gubernur Jakarta Pramono Anung mengatakan pihaknya telah menyiapkan langkah antisipasi menyambut para pendatang baru dan memastikan tidak akan melakukan operasi yustisi kependudukan usai musim lebaran 2025. Sebagai gantinya, Parmono Anung melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) akan mengecek data kependudukan para pendatang baru.
“Pemerintah Jakarta tidak akan melakukan operasi yustisi, tetapi kami akan melakukan pengecekan kependudukan,” ujar Pramono Anung di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, dikutip Rabu (2/4).
Pramono mengatakan potensi ramainya pendatang ke Jakarta usai perayaan Idul Fitri besar sebab masih menjadi daerah dengan daya tarik yang tinggi untuk mengadu nasib. Besarnya potensi kedatangan pendatang baru, Pramono mengatakan pengecekan data kependudukan bagi para pendatang baru menjadi syarat administrasi kependudukan untuk menjaga keamanan dan ketertiban penduduk di Jakarta.
Beberapa tahun sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta sering kali mengimbau agar warga Jakarta yang merayakan lebaran di kampung halamannya tidak mengajak dan membawa sanak saudara, kerabat, ataupun keluarga lainnya saat kembali ke Jakarta. Namun pada tahun ini, Pramono Anung mempersilakan pendatang untuk datang dan terbuka bagi siapa pun yang ingin memperbaiki nasibnya.
“Sebab, kami pun pasti pernah bermimpi untuk memperbaiki nasib di Jakarta. Oleh karena itu, kami membuka kesempatan bagi yang ingin melakukan hal yang sama,” kata Pramono.
Sebelumnya, Pramono mengatakan akan melakukan pendekatan yang humanis bagi pendatang baru Jakarta bahkan Pemprov Jakarta akan mengaktifkan fasilitas balai latihan kerja dan balai rakyat untuk membantu masyarakat mempersiapkan diri dengan berbagai pelatihan keterampilan sebelum masuk ke dunia kerja.
“Di Jakarta juga akan ada balai latihan kerja, tempat-tempat melakukan latihan,” kata Pramono di Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari, Cengkareng, Jakarta Barat, Sabtu malam, 22 Maret 2025.
Bahkan di dalam balai latihan kerja, Pemprov Jakarta akan mempersiapkan perbaikan kualitas kerja dan meminta agar ada pelatihan bahasa di balai latihan kerja.
“Sebab salah satu persoalan yang dihadapi Jakarta paling utama adalah terkait bahasa,”kata Pramono dikutip dari Antara.
Sumber: www.tempo.co