Jakarta, Gesuri.id - Ketua DPR RI Puan Maharani tak terlalu serius menanggapi melemahnya nilai tukar rupiah. Puan seolah masih ingin menikmati momen libur lebaran yang biasa diisi dengan kegiatan kumpul bersama keluarga.
"Lebaran dulu, kita bersilaturahmi saling bermaaf-maafan dan kita menyambung silaturahmi dengan persaudaraan semoga semuanya lancar," ujar Puan kepada media, dikutip Sabtu (5/4/2025).
Berdasarkan fakta, nilai tukar rupiah dalam perbandingan dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah, hingga berada pada level terendah sejak krisis moneter (krismon) 1998.
Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok tidak pernah benar-benar mereda sejak masa kepemimpinan Presiden Donald Trump, dan kembali memanas dalam era pemerintahan Joe Biden.
Kini, di bawah pemerintahan baru AS tahun 2025, kebijakan res-shoring dan deglobalisasi makin diperkuat, dengan tarif ekspor baru terhadap semikonduktor, mineral kritis, dan bahkan hasil pertanian.
Imbas dari perang dagang ini tidak hanya melibatkan AS dan Tiongkok, namun juga pemicu lemahnya nilai tukar rupiah yang bukan sekadar fluktuasi teknikal.
Namun, ini merupakan dampak struktural dari ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap impor, utang luar negeri, dan ekspor komoditas mentah.
Sebelumnya, saat penutupan perdagangan Jumat, 28 Maret 2025, mata uang Indonesia semakin tak berharga di hadapan mata uang negeri Uncle Sam. Rupiah melemah 14 poin atau 0,08 persen, menjadi roboh di titik Rp16.676 per dolar AS, ketimbang sehari sebelumnya sebesar Rp16.562 per dolar AS.
Kemudian dikabarkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan. Pada pembukaan perdagangan pada Kamis, 3 April 2025. Rupiah melemah 0,35 persen ke Rp16.772 dari perdagangan sebelumnya Rp16.713 per dolar AS.
Saat yang sama, Bank Indonesia mengumumkan telah menghabiskan lebih dari USD 4,2 miliar cadangan devisa hanya dalam dua bulan pertama 2025 untuk melakukan intervensi pasar. Namun, cadangan devisa Indonesia saat ini menurun dari USD 144 miliar (Desember 2024) menjadi USD 135 miliar.
Pengamat Hukum dan Pembangunan, Hardjuno Wiwoho menyatakan anjloknya mata uang rupiah ini, mengingatkan publik kepada krismon 1998. Bahkan kondisi ekonomi Indonesia saat ini justru lebih buruk dibandingkan 27 tahun lalu.
“Di tahun 1998, ketika rupiah berada di posisi Rp16.650 per dolar AS, total utang luar negeri kita hanya 70 miliar dolar AS, setara Rp1.165 triliun. Sekarang, dengan kurs yang sama, utang luar negeri kita sudah tembus 500 miliar dolar AS, yaitu sekitar Rp8.325 triliun. Naik tujuh kali lipat,” ujar Hardjuno
Hardjuno menyebut bahwa, fakta tersebut menunjukkan bahwa rupiah saat ini belum mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia secara jujur.
“Ini artinya nilai tukar yang terlihat sekarang bisa jadi belum merepresentasikan tekanan riil terhadap rupiah. Bahkan mungkin masih terlalu kuat dibandingkan kenyataan,” sambungnya.
Sementara, awal April 2025, harga emas dunia tercatat menembus angka USD 2.265 per troy ounce, melampaui rekor sebelumnya yang tercipta pada akhir 2023 di kisaran USD 2.135.
Berdasarkan Data World Gold Council (WGC), menunjukkan bahwa permintaan emas fisik melonjak lebih dari 20% dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh pembelian bank sentral dan investor individu yang mencari perlindungan dari ketidakpastian ekonomi.
Meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral seperti China, Rusia, dan India menunjukkan bahwa negara-negara besar mulai kehilangan kepercayaan terhadap dolar AS dan sistem moneter global yang terpolarisasi. Dalam kondisi seperti ini, emas bukan hanya komoditas, melainkan simbol dari ketakutan kolektif terhadap masa depan ekonomi dunia.
Sumber: fajar.co.id