Ikuti Kami

Pesan Pendukung ke Mahfud MD: Jangan Tinggalkan Relawan Jika Terpilih Jadi Wapres

Mahfud MD sebagai putra daerah dari Madura diharapkan tetap bisa berbicara lantang dalam menghadapi segala kondisi. 

Pesan Pendukung ke Mahfud MD: Jangan Tinggalkan Relawan Jika Terpilih Jadi Wapres
Gus Soleh (57) sebagai Pasukan Akar Rumput Ganjar Mahfud berpesan agar Mahfud MD tidak melupakan relawan jika terpilih sebagai Wakil Presiden periode 2024-2029. Foto/MPI

Jakarta, Gesuri.id - Gus Soleh (57) sebagai Pasukan Akar Rumput Ganjar Mahfud berpesan agar Mahfud MD tidak melupakan relawan jika terpilih sebagai Wakil Presiden periode 2024-2029.

Itu dikatakannya saat Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 3 itu menghadiri Dialog Diaspora dan deklarasi dukungan oleh warga Nusa Tenggara Timur (NTT) se-Jabodetabek di Halaman Tim Koordinasi Relawan Pemenangan Presiden (TKRPP) Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (19/12/2023). 

“Pesan kami hanya satu pak, bila terpilih menjadi Wapres jangan tinggalkan relawan Pak ya, sakitnya tuh di sini Pak ya (sambil nunjuk dada). Ya terus terang kita sejarahnya tidak ada pengkhianatan, Pak Ganjar sama Pak Mahfud bukan 100 persen tapi 1.000 persen pasti menang,” ujar Gus Soleh. 

Selain itu, ia meminta agar Mahfud MD sebagai putra daerah dari Madura untuk tetap bisa berbicara lantang dalam menghadapi segala kondisi. 

“Tapi saat ini tirani yang kita hadapi Pak, kami minta Pak Mahfud tetap jadi Pak Mahfud, berani bersuara lantang Pak, itulah ciri khas orang Madura yang kita suka,” tandasnya. 

Sementara itu, Didi Nongsai dari Ikatan Keluaraga Besar Maumere menegaskan daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Flores mendukung pasangan Ganjar Mahfud. 

“Pak mahfud tenang saja Pak Mahfud, tenang saja Pak Mahfud, NTT-Flores semua buat Ganjar-Mahfud,” ungkapnya. 

Ia pun berpesan agar nantinya pasangan Ganjar Mahfud bisa menambahkan kuota penegakan hukum yang berasal dari daerah masing-masing. 

Menurutnya, jika hal itu dilakukan masyarakat sekitar sana mengerti tentang kerafian lokal hingga kultural sosiologis di NTT.

“Bukan orang-orang yang kelas 2, kelas 3 yang didatangkan ke sana kemudian kongkalikong dengan penguasa setempat lalu menghasilkan korupsi. Jadi terima kuota sebanyak mungkin bagi orang NTT,” jelasnya.

Quote